Bayang-Bayang Tambang di Tengah Kebangkitan Wisata Alam Polewali Mandar

  • Jun 07, 2026
  • KIM Mampie
  • Lingkungan

Opini: Muh. Yusri (Yusri Mampie)

Antara Warisan Mata Air, dan Air Mata

Polewali Mandar dianugerahi bentang alam yang luar biasa. Selain menyuguhkan panorama yang indah, alam daerah ini juga menjadi sumber penghidupan bagi ribuan petani, pekebun, dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil bumi. Dari durian, rambutan, cengkeh, kopi hingga berbagai komoditas pertanian lainnya, semuanya tumbuh berkat keseimbangan alam yang selama ini terjaga.

Keindahan alam Polewali Mandar juga melahirkan banyak destinasi wisata berbasis masyarakat. Di Desa Kunyi, Desa Pappandangan, Desa Bulo, hingga Desa Batetangga, daya tarik utama yang dijual bukanlah bangunan mewah atau wahana modern, melainkan pemandangan alam yang asri, suara gemericik air sungai, kicauan burung, udara yang sejuk, serta suasana pedesaan yang masih alami. Wisata-wisata tersebut menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus bukti bahwa alam yang dijaga mampu menghadirkan kesejahteraan.

Namun, semua potensi itu dapat berubah dalam waktu singkat apabila pengelolaan sumber daya alam, khususnya sektor pertambangan, dilakukan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan dampak jangka panjangnya.

Berdasarkan data yang ditampilkan Nusantara Atlas, terdapat rencana dan aktivitas pertambangan komoditas galena di sejumlah wilayah Polewali Mandar. Salah satunya berada di Desa Kunyi, Kecamatan Anreapi, dengan status Operasi Produksi dan luas konsesi mencapai sekitar 775 hektare oleh PT. Inti Karya Polman. Selain itu, di wilayah Desa Pappandangan, Kecamatan Anreapi hingga Matakali, terdapat blok tambang galena dengan luas sekitar 1.866 hektare yang berstatus lelang.

rencana wilayah tambang Blok Pasiang 1.866 Hektar

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar siap menukar kawasan yang selama ini menjadi sumber air, sumber pangan, dan sumber ekonomi masyarakat dengan aktivitas yang berpotensi mengubah bentang alam secara permanen?

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Lokasi-lokasi yang masuk dalam wilayah konsesi tersebut merupakan kawasan yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata alam dan daerah penyangga lingkungan. Jika terjadi kerusakan ekosistem akibat aktivitas pertambangan yang tidak terkendali, maka yang terancam bukan hanya sektor pariwisata, tetapi juga pertanian, perkebunan, dan sumber-sumber kehidupan masyarakat lainnya.

Lebih jauh lagi, kita tidak boleh menutup mata terhadap potensi bencana ekologis yang dapat muncul. Daerah hulu di Kunyi dan Pappandangan merupakan bagian penting dari daerah aliran sungai yang mengalir hingga ke wilayah perkotaan Polewali. Ketika tutupan lahan berkurang dan fungsi ekologis kawasan terganggu, risiko banjir, longsor, sedimentasi sungai, hingga krisis air bersih akan semakin besar. Sungai yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat bisa kehilangan kemampuannya dalam mengendalikan debit air saat musim hujan.

Karena itu, pemerintah harus bersikap sangat hati-hati. Kajian lingkungan yang komprehensif, transparan, dan melibatkan masyarakat wajib menjadi prioritas sebelum mengambil keputusan apa pun. Jangan sampai kepentingan ekonomi jangka pendek justru mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang.

Kita juga perlu lebih kritis terhadap narasi yang sering dikampanyekan bahwa pertambangan selalu identik dengan kesejahteraan masyarakat. Faktanya, tidak sedikit daerah yang kaya akan sumber daya tambang justru menghadapi berbagai persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi setelah sumber daya tersebut habis dieksploitasi. Kesejahteraan yang sejati bukan hanya soal meningkatnya angka investasi, tetapi juga terjaminnya kualitas hidup masyarakat, terjaganya sumber air, tersedianya lahan produktif, serta lingkungan yang tetap lestari.

Polewali Mandar memiliki pilihan. Kita bisa membangun ekonomi dengan tetap menjaga alam melalui pertanian berkelanjutan, perkebunan, ekowisata, dan berbagai usaha berbasis sumber daya lokal yang tidak merusak lingkungan. Atau sebaliknya, kita memilih jalan yang berisiko mengorbankan aset alam yang selama ini menjadi penyangga kehidupan.

Harapan saya sederhana: semoga kita masih dapat mewariskan mata air kepada anak cucu kita, bukan mewariskan air mata akibat kerusakan lingkungan yang sebenarnya bisa kita cegah sejak hari ini. Alam bukan sekadar warisan dari leluhur, tetapi titipan yang harus kita jaga untuk generasi yang akan datang. Yus

 

#KIMMampie #Tambang #Wisata