Fangsheng dan Pelepasan Tukik: Wujud Nyata Welas Asih dalam Ajaran Buddha

  • Jul 02, 2026
  • Yusri Mampie
  • Budaya dan Sejarah, Lingkungan, Flora dan Fauna

Melepas Tukik sebagai Wujud Cinta Kasih kepada Semua Makhluk Hidup

Oleh: Olivia Gracia Tansil

Kegiatan pelepasan tukik yang kami lakukan secara rutin bukan sekadar bentuk kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai yang diajarkan dalam Agama Buddha. Melalui kegiatan ini, kami belajar untuk menghormati kehidupan, menumbuhkan cinta kasih kepada semua makhluk hidup, serta menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi rumah bersama.

Dalam ajaran Buddha dikenal praktik Fangsheng, yang berarti melepaskan makhluk hidup kembali ke habitat alaminya. Praktik ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan ungkapan welas asih kepada sesama makhluk. Hewan yang umumnya dilepaskan dalam praktik Fangsheng antara lain burung, ikan, belut, kura-kura, hingga penyu. Pelepasan tukik ke laut menjadi salah satu bentuk nyata dari pelaksanaan nilai tersebut, karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk melanjutkan kehidupannya di alam bebas.

Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan ajaran Pancasila Buddhis, khususnya sila pertama yang berbunyi “menghindari pembunuhan makhluk hidup.” Nilai ini tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga mencakup seluruh makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan. Melalui pemahaman tersebut, umat Buddha diajak untuk menjaga, melestarikan, dan menghargai setiap bentuk kehidupan yang ada di bumi. Kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluk lainnya mendorong lahirnya tanggung jawab untuk merawat lingkungan dan ekosistem secara berkelanjutan.

Kami juga meyakini adanya hukum karma, yaitu hukum sebab-akibat yang mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan membawa konsekuensi sesuai dengan tindakan yang dilakukan. Ketika seseorang menyelamatkan atau melepaskan hewan kembali ke habitatnya, maka ia telah melakukan perbuatan baik yang diharapkan akan menghasilkan kebaikan pula dalam kehidupannya.

Sebagai contoh, melepaskan burung dari sangkar dapat dimaknai sebagai sebab yang menghadirkan kebebasan sebagai akibat dalam kehidupan seseorang. Demikian pula ketika membantu menyelamatkan penyu atau hewan lain dari ancaman kematian, tindakan tersebut menjadi simbol upaya memperpanjang kehidupan makhluk lain yang diyakini akan membawa berkah berupa kesehatan, umur panjang, dan kebahagiaan.

Lebih dari itu, praktik Fangsheng juga mengajarkan umat untuk mengurangi keterikatan terhadap materi. Dalam banyak kesempatan, hewan yang akan dilepaskan terlebih dahulu dibeli menggunakan uang. Namun tujuan utamanya bukan untuk memiliki, melainkan untuk melepaskan. Dari proses ini, seseorang belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari kepemilikan, melainkan dari kemampuan berbagi, menolong, dan memberikan kehidupan bagi makhluk lain.

Sebelum pelepasan dilakukan, biasanya diawali dengan doa bersama. Dalam doa tersebut, kami memanjatkan harapan terbaik bagi semua makhluk hidup agar dapat hidup aman, damai, dan terbebas dari penderitaan. Doa kemudian ditutup dengan kalimat:

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.”

Yang berarti:

“Semoga semua makhluk hidup berbahagia.”

Melalui pelepasan tukik, kami tidak hanya berkontribusi pada upaya pelestarian penyu dan ekosistem laut, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap kehidupan. Karena pada akhirnya, menjaga kehidupan makhluk lain adalah bagian dari menjaga keberlangsungan kehidupan kita bersama.

 

#SahabatPenyu