Menjaga Harapan di Dalam Pasir: Muh. Yusri Melindungi Sarang Penyu Demi Kehidupan Laut Masa Depan

  • Jul 02, 2026
  • KIM Mampie
  • Lingkungan, Flora dan Fauna

Polewali Mandar – Di saat sebagian besar orang masih terlelap, Muh. Yusri berjalan menyusuri bibir Pantai Mampie. Jejak-jejak penyu yang membelah hamparan pasir menjadi petunjuk bahwa semalam seekor induk penyu telah datang menjalankan tugas paling mulianya: menitipkan generasi baru di dalam pasir.

Bagi banyak orang, lubang kecil di pantai hanyalah gundukan pasir biasa. Namun bagi pria yang akrab disapa Yusri Mampie itu, lubang tersebut adalah tempat lahirnya harapan.

Dengan penuh kehati-hatian, pendiri Sahabat Penyu Mampie ini memasang pengaman di sekitar sarang. Bukan untuk mengurungnya, melainkan melindunginya dari predator yang setiap saat dapat menggali dan memangsa telur-telur penyu sebelum sempat menetas.

"Bagi saya, setiap telur memiliki kesempatan untuk menjadi kehidupan baru di lautan. Kalau kita bisa menjaganya, berarti kita sedang memberi kesempatan kepada laut untuk tetap hidup," tutur Yusri.

Selama bertahun-tahun mendampingi penyu bertelur di Pantai Mampie, Yusri memahami bahwa alam telah memiliki caranya sendiri. Karena itu, ia memilih mempertahankan telur tetap berada di sarang alaminya. Pengamanan hanya dilakukan untuk mencegah gangguan predator, tanpa memindahkan telur jika memang tidak diperlukan.

Menurutnya, mempertahankan sarang di habitat aslinya merupakan cara terbaik untuk menghormati siklus kehidupan penyu. Suhu pasir, kelembapan, hingga kondisi lingkungan telah dipilih sendiri oleh induk penyu saat bertelur. Campur tangan manusia sebisa mungkin diminimalkan agar proses kehidupan berlangsung sebagaimana mestinya.

"Konservasi bukan berarti mengambil alih pekerjaan alam. Tugas kita hanya membantu ketika ada ancaman, selebihnya biarkan alam bekerja," ujarnya.

Perjuangan menjaga satu sarang bukanlah pekerjaan yang mudah. Ancaman datang dari berbagai arah, mulai dari biawak, anjing liar, babi hutan, kepiting, hingga aktivitas manusia yang tidak memahami pentingnya keberadaan sarang penyu.

Namun semua lelah itu seakan terbayar ketika suatu malam pasir mulai bergerak. Satu per satu tukik mungil muncul ke permukaan, lalu berlari mengikuti cahaya alami menuju ombak pertama dalam hidupnya.

Pemandangan sederhana itu selalu menghadirkan rasa haru. Sebab dari puluhan bahkan ratusan tukik yang menetas, hanya sebagian kecil yang kelak mampu bertahan hingga dewasa dan kembali ke Pantai Mampie untuk bertelur. Karena itulah, setiap telur yang berhasil diselamatkan memiliki arti yang sangat besar bagi kelangsungan populasi penyu.

"Bisa jadi, tukik yang kita lindungi hari ini akan kembali 20 atau 30 tahun mendatang sebagai induk penyu yang membawa kehidupan baru. Itulah harapan yang selalu kami jaga," kata Yusri.

Melalui gerakan konservasi yang dibangun bersama Sahabat Penyu Mampie dan masyarakat pesisir, Yusri ingin menanamkan bahwa menjaga penyu bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan banyak orang.

Di balik pagar sederhana yang mengelilingi sarang penyu, tersimpan harapan besar bagi masa depan samudra. Dan di balik setiap langkah Muh. Yusri menyusuri pantai, ada keyakinan bahwa sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan untuk alam, suatu hari nanti akan kembali menjadi kehidupan.

Karena sejatinya, melindungi satu sarang penyu bukan sekadar menjaga telur agar menetas. Melainkan menjaga agar laut tetap memiliki masa depan.

 

#SahabatPenyu #YusriMampie