Lokakarya PKN 2024 Sulawesi Barat: Harmoni Manusia dengan Alam dari Perspektif Agama dan Seni

  • Nov 13, 2024
  • Muh.Yusri
  • Pendidikan, Budaya dan Sejarah

Majene - Sulawesi Barat menjadi tuan rumah rangkaian kegiatan Fase Rawat Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2024, yang salah satu acaranya adalah lokakarya bertajuk “Harmoni Manusia dengan Alam: Perspektif Agama & Seni”. Lokakarya ini berlangsung pada Minggu, 10 November 2024 di Aula SMA Negeri 2 Majene dan diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan, termasuk siswa SMA/SMK, mahasiswa, periset, serta para aktivis budaya dan seni dari Majene dan Polewali Mandar.

Acara dibuka oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, Koordinator Tim Kerja Fase Rawat PKN 2024 Sulawesi Barat. Dalam sambutannya, Muhammad Ridwan menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian PKN yang dilaksanakan secara kolaboratif di berbagai provinsi di Sulawesi. “Di Pulau Sulawesi, kegiatan ini dilaksanakan di tiga provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Kami melibatkan lebih dari 30 komunitas dan individu, menjadikan PKN sebagai ruang kolaboratif bagi kemajuan budaya,” ujar Ridwan.

Dalam lokakarya tersebut, Muhammad Ridwan juga menyoroti tradisi "sando" di Mandar sebagai esensi dari perjalanan hidup masyarakat setempat. Ia memperkenalkan konsep ussul, praktik berdoa yang menyertakan simbol-simbol harapan, sebagai kunci memahami tradisi ritual dan mistik Mandar. "Misalnya, anak tangga rumah di Mandar selalu ganjil dengan harapan agar rezeki datang menggenapi,” jelasnya.

Lokakarya ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Nyak Ina Reseuki, kurator nasional PKN, dan Ustadz Munu, ulama dari Pambusuang, serta dimoderatori oleh Muhammad Thamrin, seorang pegiat literasi. Dalam paparannya, Nyak Ina menekankan konsep “lumbung” sebagai metode pengelolaan sumber daya budaya yang kolaboratif. Ia menggambarkan lumbung sebagai sumber daya yang mencakup ruang, arsip, gagasan, dan tenaga, serta bertujuan mendorong kerja sama yang dinamis dan interaktif.

Sementara itu, Ustadz Munu menjelaskan tradisi sando dari perspektif Islam, khususnya dalam hal kepercayaan masyarakat Mandar terhadap "sando pianaq" atau dukun bayi. Meski praktik ini sudah jarang ditemukan karena regulasi modern, Ustadz Munu menekankan bahwa tradisi tersebut mencerminkan filosofi Mandar yang kuat dalam menjaga harmoni dengan alam dan Tuhan. “Dalam berdoa, tidak ada batasan bahasa. Keyakinan ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya budaya Mandar dalam menjaga hubungan dengan alam dan Tuhan,” tambahnya.

Lokakarya ini mendapat respons positif dari para peserta yang berharap kegiatan serupa dapat lebih sering diadakan untuk menggali kearifan lokal Sulawesi Barat serta memperkuat pemahaman budaya dalam perspektif yang lebih luas.