Saat Musibah Menjadi Konten, Bukti Kamera Mengalahkan Nurani

  • Jun 07, 2026
  • Muh.Yusri
  • Peristiwa, Sosial

Memburu "Like", Mengubur Rasa Peduli

Oleh: Yusri Mampie

Perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Informasi dapat disebarkan dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai peristiwa dapat diketahui oleh masyarakat luas tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, ada fenomena yang patut menjadi perhatian bersama, yaitu semakin memudarnya rasa empati dan kepedulian sosial akibat obsesi terhadap popularitas di dunia digital.

Saat ini, hampir setiap orang memiliki telepon pintar yang dilengkapi kamera dan akses internet. Kemampuan mendokumentasikan berbagai peristiwa memang menjadi hal yang positif jika digunakan untuk tujuan edukasi, informasi, atau dokumentasi. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Dalam banyak situasi darurat seperti kebakaran, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, bahkan ketika seseorang mengalami kecelakaan, kesulitan atau kelaparan, tidak sedikit orang yang lebih memilih mengeluarkan ponsel dan merekam kejadian daripada memberikan pertolongan.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam kehidupan sosial masyarakat. Musibah yang seharusnya membangkitkan rasa kemanusiaan justru sering kali berubah menjadi tontonan dan bahan konten. Banyak orang berlomba-lomba menjadi yang pertama mengunggah video ke media sosial demi mendapatkan perhatian, jumlah tayangan, komentar, dan pengikut yang lebih banyak. Dalam situasi seperti ini, kepedulian sering kali kalah oleh keinginan untuk menjadi viral.

Tentu tidak semua dokumentasi peristiwa merupakan hal yang salah. Dalam kondisi tertentu, rekaman video dapat menjadi bukti penting atau sarana penyebaran informasi. Namun, persoalannya muncul ketika kegiatan merekam dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan mendesak korban yang membutuhkan bantuan. Ketika seseorang mengalami kecelakaan, misalnya, yang paling dibutuhkan adalah pertolongan cepat, bukan sorotan kamera dari berbagai arah.

Kita perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah alat. Nilai kemanusiaan tetap harus menjadi pedoman utama dalam penggunaannya. Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat kita kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Sebuah unggahan yang viral mungkin hanya bertahan beberapa hari, tetapi pertolongan yang diberikan kepada sesama dapat meninggalkan makna yang jauh lebih besar dan abadi.

Di tengah derasnya arus media sosial, masyarakat perlu kembali menempatkan empati sebagai prioritas. Sebelum menekan tombol rekam, ada baiknya bertanya pada diri sendiri: apakah saat ini korban membutuhkan kamera atau membutuhkan bantuan? Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan harus selalu berada di atas keinginan untuk mendapatkan popularitas.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan suatu masyarakat bukan hanya dilihat dari kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari kemampuan warganya menjaga rasa peduli, empati, dan solidaritas terhadap sesama. Sebab ketika nurani tetap hidup, teknologi akan menjadi sarana kebaikan. Namun ketika popularitas lebih diutamakan daripada kemanusiaan, maka yang hilang bukan hanya kepedulian, melainkan juga jati diri kita sebagai manusia.

— Yusri Mampie